Ada kuliner unik di kawasan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG). Kuliner satu ini dijual di gerobak yang diletakan di sepeda motor. Mereka ada yang berjualan di dekat area taman, ada juga yang berjualan di dekat jalan raya. Namanya adalah Kreco.
Kreco atau keong sawah ini adalah sejenis siput air. Hewan yang hidup di sawah ini dapat diolah sebagai berbagai macam hidangan. “Diolah kuah dan sate,” terang Yeti Desita salah satu penjual olahan kreco di area Monumen Simpang Lima Gumul
Kepada wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk, perempuan yang kerap dipanggil Yeti ini mulai membuka usaha olahan kreco ini sudah sekitar enam tahun. Namun ketika awal memulai usahanya dia tidak berjualan di area SLG. Melainkan berjualan keliling di area Gampengrejo. “Awalnya dulu jualan keliling,” imbuhnya.
Perempuan berusia 40 tahun ini menjelaskan bahwa ia mulai berjualan di kawasan SLG mulai pukul 09.00 WIB. Namun jika diluar car free day, baru mulai berjualan sekitar pukul 15.00 hingga pukul 22.00 WIB.
Setiap harinya, Yeti membawa kreco menjual kreco bumbu kuah dan sate kreco. Setiap harinya ia membawa setidaknya 25 kilogram. Dimana kreco ini dibeli dari pengepul dari wilayah Kabupaten Jombang. Harga olahan kreco ini sangat ramah di kantong. Baik kreco kuah dan sate kreco masing-masing Rp 10 ribu.
Untuk diketahui kreco adalah sebutan lain untuk keong sawah (tutut), yaitu sejenis siput air yang diolah menjadi makanan tradisional khas Jawa Timur, khususnya di daerah Kediri dan sekitarnya. Makanan ini dimasak dengan berbagai bumbu rempah dan parutan kelapa, lalu disajikan dengan kuah, dan dinikmati dengan cara diseruput atau dicungkil.